Maziyyah Indonesia

+6281311127681

maziero.era@gmail.com

Wakafkan 115 Sepeda dan Tempati Balai Desa, Maziero Razienera Jadi Primadona

Bagikan

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

PONOROGO–Maziero Razienera tiba-tiba menjadi viral dan dibicarakan tiap-tiap angkatan pada puncak acara Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor dengan wakaf ikonik mereka, yaitu 115 unit sepeda untuk sang almamater senilai Rp172.500.000,00. Luar biasanya, wakaf tersebut dilengkapi uang tunai sebesar Rp50 juta dan menjadi wakaf tertinggi untuk pondok dengan total nominal sebesar Rp222.500.000,00.

Alumni Gontor angkatan 2007 ini memang telah menunjukkan solidaritas mereka untuk pondok sejak awal pembangunan Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) yang baru. Pada saat itu, melalui Yayasan Maziyyah Indonesia Peduli (YMI Peduli), mereka berhasil menggalang dana sebesar Rp135 juta untuk membantu biaya pembangunan BPPM.

Kali ini, mereka kembali berkontribusi membantu mobilitas guru-guru Gontor yang terkena aturan tidak boleh berkendara roda dua. Bahkan, dana wakaf untuk sepeda ini terkumpul dalam waktu cukup singkat. Sejak ide ini digulirkan pada bulan Juli 2026, dari target 100 sepeda, hingga sepekan menjelang acara puncak Peringatan 100 Tahun Gontor, terkumpul 115 sepeda. Andai donasi tidak ditutup, jumlah bisa lebih dari itu.

Wakaf dalam bentuk sepeda ini dipuji para alumni, baik alumni junior maupun senior. Menurut mereka, wakaf ini sangat efektif dan selaras dengan program pondok, sekaligus mendukung penerapan disiplin guru-guru yang dicanangkan oleh Pimpinan Pondok, K.H. Hasan Abdullah Sahal. Ini adalah bentuk wakaf yang tidak terpikirkan oleh angkatan lainnya.

Selain wakaf yang ikonik, pada Peringatan 100 Tahun Gontor ini, Maziero Razienera juga menjadi buah bibir banyak pihak karena menempati Balai Desa Gontor sebagai basecamp atau posko reuni angkatan mereka. Orang-orang bertanya-tanya bagaimana Maziero bisa mendapatkan izin menggunakan fasilitas pemerintah desa yang lokasinya sangat strategis dan berjarak dengan gerbang pondok. Ini tampak istimewa sekali.

Apalagi, posko mereka berada di jalur jalan utama masuk pondok. Tampilannya pun sangat mencolok dengan aksesoris marhalah (baca: angkatan) terpasang di mana-mana. Hampir di seluruh bagian gedung Balai Desa Gontor dipasangi atribut marhalah, mulai dari logo, bendera, spanduk, dan lain sebagainya, semuanya bernuansa marhalah.

Posko juga selalu tampak ramai hingga selalu menarik perhatian alumni angkatan lain yang melewatinya. Keramaian di posko Maziero tak terlepas dari tersedianya aneka macam konsumsi yang tak habis-habis disediakan oleh panitia. Sehingga, tak seorang pun berpikir untuk mencari makan ke warung atau ke tempat lain. Mereka sangat betah berbincang melepas rindu di bawah cahaya lampu yang sengaja dipasang seterang mungkin menyorot tempat angkringan dari pojok ke pojok.

Peringatan 100 Tahun Gontor seakan jadi momentum terpancarnya karisma memukau angkatan 2007. Sampai-sampai, lagu marhalah dan yel-yel mereka tentang “hidup seribu tahun” menggema di mana-mana, dinyanyikan angkatan lain. Lagu itu menjadi tanda kebersamaan dan kekompakan Maziero Razienera memasuki abad kedua Pondok Modern Darussalam Gontor. shah wa

Scroll to Top