Maziyyah Indonesia

+6281311127681

maziero.era@gmail.com

Masih Layakkah Aku Pulang

Bagikan

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

La… la… la… la… la…

Maziero…

“Walaupun hidup seribu tahun, walau tak sembahyang, Maziero…”

Begitulah salah satu penggalan lagu yang entah bagaimana menjadi begitu ikonik sepanjang peringatan 100 tahun pondok kemarin.

Secara lirik, mungkin ada yang merasa sedikit terusik, terutama pada bait terakhirnya. Namun setelah mengikuti reuni dan bertemu kembali dengan banyak kawan, saya justru menemukan makna lain di balik nyanyian itu. Bahkan, untuk pertama kalinya, saya merasa ada kebanggaan tersendiri ketika menyanyikannya bersama-sama.

Sebab barangkali, lagu itu memang tidak sedang berbicara tentang kesempurnaan. Ia sedang berbicara tentang kebersamaan. Tentang bagaimana seseorang tetap memiliki tempat untuk pulang, meskipun hidupnya tidak selalu berjalan sebagaimana yang dahulu kita bayangkan.

Terkadang kita merasa berharga bukan karena kita sempurna. Bukan karena memiliki banyak prestasi, dikenal banyak orang, memiliki jabatan, pekerjaan yang baik, atau mendapatkan validasi yang tinggi dari dunia. Kadang-kadang, kita justru merasa sangat berharga ketika kekurangan kita masih diterima oleh orang-orang di sekitar kita. Dan mungkin, itulah salah satu bentuk kasih sayang yang paling sederhana sekaligus paling mahal, diterima tanpa harus terlebih dahulu menjelaskan mengapa kita belum menjadi seperti yang diharapkan.

Di zaman ketika media sosial hampir selalu menampilkan kehidupan yang tampak sempurna, kita sering lupa bahwa di balik setiap layar, ada begitu banyak napas yang masih terengah-engah mengejar kehidupan. Ada keringat yang belum sempat mengering meskipun hari telah berganti, karena kebutuhan tidak pernah benar-benar berhenti. Ada kepala yang tetap tersenyum di hadapan orang lain, sementara di dalamnya sedang penuh dengan pertanyaan. Ada air mata yang sengaja disembunyikan agar terlihat tegar. Ada orang-orang yang setiap hari berusaha berdamai dengan kekurangan dirinya, sementara ucapan, perbandingan, cibiran, atau bahkan pengucilan terus datang silih berganti.

Dan pada titik tertentu, setiap orang mungkin membutuhkan sebuah tempat untuk berhenti. Bukan untuk menyerah. Hanya untuk beristirahat sebentar dari keharusan terlihat baik-baik saja.

Sebuah tempat untuk duduk, tertawa, bercerita, mengingat masa lalu, dan sesekali menjadi diri sendiri tanpa harus takut dinilai. Barangkali itulah salah satu makna reuni yang sesungguhnya. Bukan sekadar bertemu orang-orang yang pernah kita kenal. Tetapi bertemu kembali dengan bagian dari diri kita yang mungkin selama bertahun-tahun kita tinggalkan.

Kita mungkin sudah berjalan ke arah yang berbeda. Kita mungkin tidak lagi memiliki pekerjaan yang sama, kehidupan yang sama, pencapaian yang sama, bahkan mungkin keadaan ekonomi yang sama. Tetapi ketika bertemu kembali, kita menemukan satu hal yang masih sama, kita pernah tumbuh bersama. Dan ternyata, itu cukup untuk membuat seseorang merasa bahwa dirinya masih memiliki saudara.

Di sela tiga hari peringatan kemarin, ada satu kisah yang sangat membekas bagi saya. Sebuah kisah sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya, ia membuat saya lama termenung. Ada seorang kawan kita yang dahulu mungkin tidak terlalu dikenal ketika menjadi santri. Ia datang terlambat. Tetapi bukan karena terlambat datang ke pondok. Ia terlambat datang karena malu untuk datang. Ketika pertama kali bertemu dengan saya, kalimat yang keluar justru sangat sederhana:

“Boleh nggak saya gabung meski belum daftar?”

Saya sempat terdiam. Ia kemudian bercerita bahwa selama informasi reuni beredar, termasuk berbagai kegiatan wakaf, sedekah, dan kontribusi angkatan, ia tidak pernah ikut berpartisipasi, bahkan tidak sepeser pun. Bukan karena tidak peduli. Tetapi karena keadaan. Dan justru keadaan itulah yang membuatnya merasa malu.

Ia merasa tidak pantas datang menemui kawan-kawan. Ia merasa tidak layak berdiri bersama mereka. Ia merasa, setelah sekian tahun berlalu, dirinya belum menjadi seseorang yang cukup berhasil untuk diceritakan ketika bertemu kawan lama. Usianya hampir empat puluh tahun. Dan ia masih membawa pertanyaan yang mungkin diam-diam juga pernah kita bawa, “Setelah sekian lama, sudah jadi apa saya?”

Saya kira, selama ini pertanyaan seperti itu hanya ada dalam tulisan-tulisan di media sosial, dalam potongan film pendek, atau dalam kisah-kisah yang sengaja dibuat dramatis untuk menggambarkan kehidupan. Ternyata tidak. Hari itu Allah memperlihatkannya kepada saya secara langsung. Ia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memberanikan diri memasuki balai desa. Ia takut tidak ada yang mengenalnya. Takut tidak ada yang menyapanya. Takut ditanya tentang pekerjaannya. Takut dibandingkan dengan kawan-kawan yang mungkin telah jauh lebih berhasil. Takut bahwa reuni yang seharusnya menjadi tempat bertemu justru akan menjadi ruang yang kembali mengingatkannya pada segala kekurangan.

Tetapi akhirnya, kerinduan mengalahkan rasa malu. Ia memasuki gerbang itu. Dan sesuatu yang tidak pernah ia duga terjadi. Ia disambut. Ada salam. Ada senyum. Ada tepukan di bahu. Ada pelukan nostalgia. Ada tawa.

Tidak ada yang menanyakan berapa penghasilannya. Tidak ada yang menanyakan jabatan apa yang sekarang dimilikinya. Tidak ada yang menghitung berapa besar kontribusinya. Tidak ada yang menanyakan mengapa ia tidak ikut menyumbang. Dan bahkan tidak ada yang menanyakan namanya. Ia hanya dipanggil sapaan universal “Sul”.

Selama kurang lebih dua jam, yang dibicarakan hanya masa lalu. Tentang kenakalan. Tentang teman-teman lama. Tentang guru. Tentang kamar. Tentang cerita-cerita kecil yang dahulu terasa biasa, tetapi sekarang ternyata menjadi begitu berharga. Ia datang dengan perasaan takut akan dihakimi. Tetapi ia pulang membawa perasaan diterima.

Ada satu kalimatnya yang sampai sekarang masih saya ingat. Ia mengatakan bahwa ia sebenarnya lelah dikasihani. Ia tidak ingin selamanya menjadi orang yang hanya menerima belas kasihan. Ia ingin suatu hari nanti bisa ikut memberi. Ia ingin ikut menyumbang. Ia ingin suatu saat berdiri di antara kawan-kawannya ketika laporan Yayasan dibacakan, lalu merasa bahwa meskipun sedikit, ada bagian kecil dari dirinya yang ikut mengisi. Bukan karena nominalnya. Tetapi karena ia ingin merasa ikut memiliki.

Saya kira, itu sangat manusiawi. Sebab manusia tidak hanya membutuhkan pertolongan. Manusia juga membutuhkan kesempatan untuk berkontribusi. Kita ingin merasa bahwa keberadaan kita berarti. Bahwa tangan kita, meskipun tidak banyak, pernah ikut membantu. Bahwa nama kita, meskipun tidak terkenal, pernah ikut menjadi bagian dari sebuah kebaikan.

Malam itu, setelah sujud syukur selesai dilaksanakan, ia pergi. Tidak banyak berkata-kata. Ia hanya meninggalkan keramaian itu dengan hati yang mungkin jauh lebih ramai daripada ketika ia datang. Ia datang ke pondok dengan niat untuk mengadu. Tetapi justru di sana, ia menemukan obat. Bukan obat dalam bentuk materi. Bukan pula jawaban atas seluruh persoalan hidupnya. Tetapi sesuatu yang mungkin jauh lebih ia butuhkan saat itu, kehangatan.

Sujud syukur yang ia ikuti malam itu, entah bagaimana, terasa seperti sebuah hadiah dari Allah. Ia datang dengan perasaan tidak memiliki tempat. Lalu pulang dengan membawa keyakinan bahwa ternyata ia masih memiliki rumah. Dan rumah itu bernama marhalah.

Sejak pertemuan itu, saya mulai memikirkan kembali bait terakhir lagu Maziero.

“Walaupun hidup seribu tahun, walau tak sembahyang…”

Mungkin saya tidak perlu memahaminya secara harfiah. Mungkin ada makna lain yang bisa kita temukan di baliknya. Bukan tentang membenarkan seseorang untuk meninggalkan kewajiban. Bukan pula tentang mengabaikan nilai-nilai yang dahulu diajarkan kepada kita. Tetapi tentang sebuah pengakuan yang sederhana, seberapa pun jauh perjalanan hidup kita setelah meninggalkan pondok, kita pernah menjadi bagian dari sebuah keluarga besar.

Kita semua pernah duduk di tempat yang sama. Pernah belajar dari guru-guru yang sama. Pernah mengalami masa-masa sulit yang sama. Pernah tertawa karena hal-hal kecil yang hari ini bahkan mungkin sudah kita lupakan. Dan setelah puluhan tahun berlalu, hidup boleh membawa kita ke mana saja.  Ada yang menjadi akademisi. Ada yang menjadi pengusaha. Ada yang menjadi birokrat. Ada yang menjadi guru. Ada yang menjadi tokoh masyarakat. Ada yang mungkin masih berjuang mencari pijakan. Ada yang kehidupannya berjalan sesuai harapan. Ada pula yang mungkin sampai hari ini masih bertanya-tanya ke mana arah hidupnya.

Tetapi ketika kita kembali ke rumah itu, kita tidak seharusnya hanya membawa cerita tentang keberhasilan. Kita juga boleh membawa kegagalan. Boleh membawa luka. Boleh membawa rasa malu. Boleh membawa hidup yang belum selesai. Sebab pondok, barangkali, bukan hanya tempat yang menerima mereka yang telah berhasil. Ia juga tempat bagi mereka yang masih berusaha menjadi lebih baik.

Dan bukankah kita semua sebenarnya masih demikian? Masih belajar. Masih memperbaiki diri. Masih jatuh dan bangun. Masih berusaha menjadi manusia yang lebih baik daripada diri kita kemarin.

Maka saya mulai memahami mengapa lagu itu begitu hidup ketika dinyanyikan bersama-sama. Karena yang kita rayakan bukanlah kesempurnaan. Yang kita rayakan adalah persaudaraan yang mampu bertahan melewati waktu.

Mungkin inilah salah satu pelajaran paling indah dari peringatan satu abad kemarin:

bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke sebuah tempat. Pulang terkadang berarti menemukan kembali perasaan bahwa kita masih diterima. Bahwa masih ada orang yang memanggil nama kita dengan hangat. Bahwa masih ada tangan yang bersedia menjabat. Masih ada bahu yang bersedia dipeluk. Masih ada tawa yang tidak menanyakan apa yang telah kita capai. Dan masih ada saudara yang berkata, secara langsung maupun tidak langsung:

“Tidak apa-apa. Kamu masih bagian dari kami.”

Barangkali itulah yang membuat reuni menjadi lebih dari sekadar nostalgia. Ia menjadi ruang penyembuhan. Tempat kita mengingat bahwa hidup tidak harus selalu tentang pencapaian.

Kadang-kadang hidup juga tentang menemukan tempat di mana kita tidak perlu berpura-pura. Tempat di mana kita boleh menjadi manusia biasa. Dengan segala kurangnya. Dengan segala gagalnya. Dengan segala cerita yang belum selesai. Dan tetap diterima.

Terima kasih kepada seluruh kawan dan sahabat. Terima kasih kepada panitia yang telah menghadirkan peringatan ini bukan hanya sebagai perayaan sejarah, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar kembali tentang arti persaudaraan. Saya yakin, ada banyak rasa hormat, cinta, dan doa yang telah kita kirimkan kepada pondok dan kepada satu sama lain.

Namun, izinkan saya menyampaikan satu hal yang mungkin lebih sederhana, terima kasih karena telah memberikan tempat. Terima kasih karena telah memberikan waktu. Terima kasih karena telah menghadirkan kembali memori. Terima kasih karena, mungkin tanpa kita sadari, pertemuan ini telah mengobati begitu banyak kesedihan yang selama ini disimpan diam-diam. Terima kasih karena telah menerima mereka yang datang dengan keberhasilan maupun mereka yang datang dengan luka. Terima kasih karena telah memberikan ruang bagi mereka yang masih mencari jalan. Dan terima kasih karena telah membuktikan bahwa setelah sekian lama kita meninggalkan pondok, ternyata ada satu hal yang tidak benar-benar ikut pergi, rasa bahwa kita masih saudara.

Barangkali suatu hari nanti kita akan kembali sibuk. Kembali ke pekerjaan. Kembali kepada keluarga. Kembali kepada segala tuntutan kehidupan. Dan mungkin, setelah beberapa tahun, kita kembali lupa pada detail-detail pertemuan ini. Tetapi semoga ada satu hal yang tetap tinggal di dalam hati, bahwa pernah ada satu masa ketika kita pulang bersama. Pernah ada satu tempat yang menerima kita apa adanya.

Dan pernah ada sebuah marhalah yang mengajarkan bahwa persaudaraan tidak selalu dibangun oleh kesamaan nasib, tetapi oleh kesediaan untuk tetap membuka pintu bagi siapa pun yang ingin kembali. Karena pada akhirnya, mungkin kita semua bukan sedang mencari tempat untuk pulang. Kita hanya ingin memastikan bahwa ketika suatu hari hidup terasa terlalu berat, masih ada rumah yang pintunya belum tertutup. Dan bagi kita, rumah itu mungkin bernama “Maziero”. fmzein

Scroll to Top