Ada nasihat ustadz kami dulu yang sampai sekarang masih saya ingat: “Jadilah orang baik, maka kamu akan menemukan orang baik. Kalau tidak menemukan orang baik, yakinlah, kamu akan ditemukan oleh orang baik.”
Sederhana sekali. Kita hanya perlu menjaga niat, lalu berbuat baik. Soal kebaikan itu nanti diketahui orang atau tidak, biarlah waktu dan Allah yang mengaturnya. Ternyata, pelajaran itu benar-benar saya temukan dalam peringatan 100 tahun Gontor kemarin.
Ada kawan-kawan Maziero Razienera yang berinisiatif mewakafkan 50 juta rupiah dan 115 sepeda untuk pondok. Ide sepeda ini muncul karena adanya kebijakan keselamatan bagi ustadz muda. Daripada pondok harus menyediakan sepeda satu per satu, mereka berpikir, “Ya sudah, kita bantu saja.” Sederhana.
Tidak ada angka keramat seperti 680 atau 687. Tidak ada target untuk masuk berita. Tidak ada pula niat mencari panggung. Pokoknya, pondok butuh sepeda, kita kasih sepeda. Selesai. Tetapi ternyata Allah punya selera humor sendiri.
Karena ingin transparan, dua sepeda dibawa untuk diserahkan secara simbolis kepada pondok pada acara senam Ahad pagi. Rencananya sederhana saja. Tidak usah seremonial. Tidak perlu ramai. Yang penting diterima oleh pondok.
Tapi ketika acara berlangsung, dua sepeda itu tiba-tiba diambil panitia santri. Lalu, dinaikkan ke panggung. Kawan-kawan Maziero langsung bingung. “Lho, kok naik panggung?” Belakangan baru diketahui bahwa sepeda tersebut sempat dikira doorprize acara senam.
Ya wajar juga. Kalau ada dua sepeda di tengah acara alumni, siapa tahu memang hadiah.
Setelah dijelaskan bahwa sepeda itu bukan hadiah, melainkan wakaf, akhirnya dilakukanlah penyerahan secara simbolis oleh Ustadz Ahmad Suharto dan Ustadz Syuja’i sebagai perwakilan Bapak Pimpinan yang berhalangan hadir. Dan yang awalnya direncanakan hanya sebagai penyerahan biasa, berubah menjadi seremonial di atas panggung, disaksikan alumni lintas angkatan.
Tepuk tangan. Kamera. Dokumentasi. Semua lengkap. Dua sepeda yang tadinya ingin diserahkan secara diam-diam akhirnya justru menjadi artis pagi itu. Niat baik memang kadang pemalu. Tapi kalau Allah mau, ia bisa juga naik panggung.
Dari kejadian itu saya kembali teringat: mungkin memang begitulah keberkahan. Kita mengurus niat. Allah mengurus jalannya. Kita hanya memberikan sepeda. Allah yang menentukan berapa banyak manfaat yang lahir dari setiap kayuhan.
Kita tidak pernah tahu kebaikan kecil akan sampai sejauh apa. Karena itu, barangkali tidak perlu terlalu sibuk memikirkan apakah kebaikan kita akan diketahui orang atau tidak. Berbuat saja. Kalau ternyata diketahui orang, semoga menjadi inspirasi. Kalau tidak diketahui, semoga menjadi amal.
Dan satu hal lagi yang paling saya ingat dari pagi itu. Kami tentunya bersyukur kepada Allah atas kesempatan yang diberikan untuk berbuat baik ini. Kepada pondok pula yang telah mempertemukan kami dan menyediakan wahana bagi kami untuk tumbuh dan terus mengabdi, meski dalam bentuk, kesempatan dan waktu yang berbeda.
Tidak lupa, kami pun sangat berterimakasih dan hormat kepada kawan-kawan Angkatan 2006 Glorius Naturalis yang telah begitu semangat berangkat sejak awal, menyapa kami saat berjalan, dan bahkan duduk paling depan hanya demi bisa menyaksikan kami menyerahkan wakaf 115 sepeda ini. Mungkin memang begitu cara persaudaraan alumni bekerja, niat baik menemukan jalannya sendiri, sedangkan kawan-kawan menemukan kursi paling depan. fmzein








