Maziyyah Indonesia

+6281311127681

maziero.era@gmail.com

Menahan Diri dan Menahan Ego

Bagikan

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Senja seperti punya caranya sendiri untuk membuat orang melambat. Di Masjid Jami UNIDA Gontor, momen Kajian dan Ifthar Akbar 5.0 bukan hanya tentang menunggu adzan maghrib, melainkan juga menunggu satu hal yang lebih halus: kesadaran. Jamaah duduk rapat, sebagian menunduk, sebagian menatap ke depan—seolah semua sedang disiapkan untuk sebuah pengingat yang sederhana, namun sering luput dari perhatian.

Di tengah suasana itu, KH. Hasan Abdullah Sahal mengajak hadirin menengok kembali hakikat puasa dari sisi yang lebih dalam. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga—dua hal yang paling mudah diukur dan paling sering disebut—melainkan menahan sesuatu yang jauh lebih licin: diri sendiri.

“Menahan diri,” dalam pesan beliau, bukan kalimat hiasan yang cocok untuk spanduk Ramadan. Ia adalah inti latihan. Puasa mengajari manusia untuk berhenti sejenak dari kebiasaan menuruti dorongan: dorongan untuk selalu menang, selalu didengar, selalu dianggap benar, selalu menjadi yang paling. Sebab yang sering membuat manusia jatuh bukan karena kekurangan, tetapi karena berlebihan—berlebihan merasa, berlebihan menilai, berlebihan menuntut, berlebihan ingin melampaui batas.

Di titik inilah puasa berubah menjadi semacam “sekolah batin”. Ia tidak hanya menertibkan jam makan, tetapi juga menertibkan emosi. Ia bukan hanya menunda minum, tetapi juga menunda reaksi. Ia bukan sekadar menahan yang halal pada waktunya, tetapi juga menyiapkan kemampuan untuk menahan yang merusak kapan pun: menahan ego yang mudah tersinggung, menahan lidah yang ingin membalas, menahan sikap yang gemar menghakimi.

Kita sering mengira kemenangan puasa diukur dari kuatnya tubuh bertahan sampai maghrib. Padahal, ujian yang lebih berat justru terjadi di sela-sela itu: saat seseorang tetap berpuasa, namun masih membiarkan amarah memimpin; masih membiarkan kesombongan tumbuh; masih membiarkan diri merasa lebih tinggi dari orang lain. Puasa, kata pesan yang tersirat dari kajian itu, bukan cuma soal tidak makan—tetapi soal tidak melampaui batas.

Maka ketika adzan akhirnya berkumandang, yang berbuka sebenarnya bukan hanya perut. Ada harapan bahwa yang ikut “berbuka” adalah ego yang tadinya mengeras, sikap berlebihan yang tadinya liar, dan keinginan untuk melampaui batas yang sering membuat hidup kehilangan berkahnya. Dari masjid itu, puasa dipulangkan sebagai pelajaran: menjadi manusia bukan berarti selalu mengikuti keinginan, tapi mampu mengendalikannya. shah wa

Salurkan donasi Anda melalui: 

  1. BSI a.n. Yayasan Maziyyah Indonesia (Nomor Rekening: 7681620073)
  2. BRI a.n. Yayasan Maziyyah Indonesia Peduli (Nomor Rekening: 007001627681569)